Andikabertanya dengan seorang prajurit paling junior bernama Ahmad Nur berpangkat Prajurit Dua atau Prada. Komunikasi dengan Tentara Amerika, Prada Ahmad Pakai Google Translate. By redaksi2. 6 Agustus 2022 01:40. 0. Facebook. Dikejutkan 'Sinyal Bahaya' dari Kapal Asing di Bontang, Inilah Faktanya. 16 Juli 2021 08:34. Yuliati
TipsBerkomunikasi di Bali. Berlibur di destinasi wisata sebesar Bali memungkinkan kita berinteraksi dengan banyak orang, termasuk dengan wisatawan asing. Di best spot for tourism seperti Kuta, Sanur, hingga Seminyak cukup banyak turis berseliweran. Apalagi Pantai Kuta, turis asing disitu sangat mendominasi. Namun, bahasa kadang menjadi kendala
YudoMargono menyebut bila ada kapal asing melewati batas wilayah, kedepankan terlebih dahulu dari segi. "Jika KRI bertemu dengan kapal negara Asing di daerah operasi, laksanakan komunikasi kasih tahu jika mereka masuk ke dalam perairan yurisdiksi nasional Indonesia dan laksanakan koordinasi untuk melaksanakan latihan bersama Passex (Passing
Vay Tiền Nhanh. Kawan Bicara, kali ini penulis akan mengajak Anda mengenal cara berkomunikasi jika situasinya sedang berada di atas laut. Tahukah kamu, bahwa komunikasi yang baik harus kita kuasai jika kita ingin selamat dalam sebuah pelayaran? Dalam hal ini, untuk menghindari kecelakaan yang terjadi di laut akibat buruknya komunikasi antara satu kapal dengan kapal yang lain, atau antara kapal dengan stasiun pengawas. Oleh karena itu, sebuah komunikasi yang baik tentunya ada bahasa dan cara yang harus digunakan. Berikut adalah bahasa komunikasi di laut yang secara umum dibagi menjadi dua yaitu a. Bahasa Isyarat Bahasa Isyarat adalah bahasa yang dipergunakan pada saat pengiriman / penerimaan berita yang menggunakan isyarat / kode dan mempunyai arti dan makna tersendiri. Lalu, berkomunikasi dengan bahasa isyarat isyarat dapat dilakukan dengan bendera isyarat, morse bunyi, morse cahaya dan isyarat bunyi. b. Bahasa Biasa Bahasa biasa adalah bahasa yang digunakan pada saat berkomunikasi dengan isi berita yang jelas tanpa kode / isyarat sehingga berita yang disampaikan lebih sederhana dan efektif ketika terjadi kesulitan bahasa. Berkomunikasi dengan bahasa biasa dapat dilakukan dengan radio. Isyarat yang harus kita berikan ketika ingin berkomunikasi – YU Yankee Uniform = Isyarat- isyarat yang akan dikirimkan berikut ini adalah dalam bahasa isyarat. – YZ Yankee Zulu = Isyarat-isyarat yang akan dikirimkan berikut menggunakan bahasa biasa. – INTERCO = Kata-kata yang akan diucapkan berikut ini adalah dengan bahasa isyarat Komunikasi dengan radio. – ZA = Saya ingin berkomunikasi dengan anda menggunakan bahasa . . . . Hanya ada 10 bahasa resmi negara untuk berkomunikasi, yaitu dengan beberapa kode radio yang sudah ditetapkan secara standar internasional, yakni; 0 = Belanda, 1 = Inggris, 2 = Perancis, 3 = Jerman, 4 = Yunani, 5 = Italia, 6 = Jepang, 7 = Norwegia, 8 = Russia, dan 9 = Spanyol. Melihat hal di atas, kita bisa mencontohkan sebagai berikut; ZA6 = Saya ingin berkomunikasi dengan anda menggunakan bahasa Jepang. Bagaimana Kawan Bicara? Unik sekali bukan? Lalu, selain radio, apakah ada alat lain untuk berkomunikasi? Kali ini penulis akan berbagi informasi terkit alat yang yang sesuai dalam berkomunikasi diatas laut. Seperti yang kamu tahu, laut tidak seperti ruas jalanan darat yang kondisinya bisa diprediksi. Ancaman ombak ganas atau cuaca badai selalu mengintai. Karena itu, dibutuhkan alat komunikasi yang memadai di kapal. Alat komunikasi membantu Anda tetap terhubung ke pusat untuk memberikan update kondisi dan posisi secara rutin. Kita bisa mencontohkan, misalnya ada bahaya yang mengancam, kita bisa segera meminta bantuan. Setidaknya inilah lima alat komunikasi yang harus selalu tersedia di kapal, seperti; 1. Telegraf Pernah menonton film dengan adegan seseorang di atas kapal menerima pesan semacam sandi di atas kertas? Kemungkinan besar dia menggunakan telegraf. Perangkat satu ini berfungsi untuk mengirim dan menerima pesan dalam bentuk kode morse secara jarak jauh menggunakan frekuensi gelombang radio. Kamu mungkin mengenal kode morse sebagai sebuah sandi yang banyak dilakukan murid pramuka dengan menggunakan bendera khusus. Nah, dalam komunikasi kapal, biasanya kode morse ini hadir dalam bentuk garis dan titik untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi. 2. Marine VHF Radio Alat komunikasi satu ini sangat berfungsi dalam situasi darurat. Bahkan ada pihak coast guard yang selalu memantau selama 24 jam. Setiap kapal dianjurkan untuk memiliki dua perangkat marine VHF radio agar bisa stand by di dua channel penting. Pertama adalah channel 16 yang digunakan untuk keadaan dan panggilan darurat hingga peringatan keselamatan. Sementara itu, channel kedua adalah channel 13 yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi antar kapal di tengah laut, terutama apabila ada informasi penting. 3. Hand-held VHF Radio Alat ini memiliki output maksimum sebanyak 6 Watt, serta daya yang cenderung rendah dan antena yang pendek. Hasilnya, komunikasi hanya bisa dilakukan apabila masing-masing pemegang perangkat yang juga disebut Handy TalkieHT ini berjarak maksimal 5 mil dari satu sama lain. Jika ingin berkomunikasi pada rentang yang lebih jauh, biasanya harus ada antena eksternal yang dipasang ke HT. Karena fungsinya yang cukup terbatas, HT pun biasanya digunakan sebagai perangkat cadangan darurat untuk radio perahu. Perlu diketahui, usia baterainya pun cukup bervariasi sehingga bisa dipilih sesuai kebutuhan. Ada yang hadir dengan daya transmisi besar, ada pula yang dilengkapi baterai saver sirkuit sehingga bisa mematikan penerima demi menghemat daya. 4. Telepon Satelit Saat terjebak dalam situasi kurang menguntungkan di atas kapal, Kawam Bicara mungkin berpikir bahwa Anda bisa langsung mencari bantuan dengan berkomunikasi menggunakan telepon seluler biasa. Ya, hal itu memang mungkin terjadi. Namun, perlu diingat bahwa telepon seluler memiliki jangkauan yang lebih terbatas sehingga kemungkinan kamu tidak bisa melakukan panggilan. Sebagai gantinya, kita membutuhkan telepon satelit. Berbeda dari telepon satelit yang menempatkan base transceiver station-nya di darat, telepon satelit meletakkan base transceiver station di udara. Alhasil, jangkauan yang dimiliki telepon satelit pun lebih luas sehingga bisa melakukan komunikasi di tempat-tempat yang biasanya tidak terjangkau telepon seluler, mulai dari area pegunungan hingga laut. Keamanan menjadi hal utama yang harus diperhatikan saat berkendara, khusus bagi yang berkendara menggunakan kapal. 5. Goliath Mungkin Kawan Bicara mendengar nama tersebut terasa asing. Bagaimana tidak? Karena, nama tersebut memang jarang bersentuhan dengan kita. Goliath adalah salah satu antena terbesar untuk komunikasi kapal selam. Antena tersebut berdiri di daerah dekat Kalbe an der Milde di Saxony-Anhalt, Jerman. Antena itu dulunya digunakan oleh Nazi semasa perang. Soal kehandalannya, Goliath tak perlu diragukan karena mampu menjangkau kapal selam di setiap sudut bumi kecuali di wilayah ceruk panjang dengan sisi tebing curam yang ada di Norwegia. Di tempat lain, Goliath bahkan menjangkau kapal selam yang berada di kedalaman dua puluh meter. Goliath yang diandalkan untuk kepentingan militer dan penyiaran punya kekuatan transmisi yang bisa mencapai 1000 kilowatt. Hal tersebut juga memancarkan pada frekuensi 15 hingga 25 kilohertz. Dengan kekuatan sedemikian rupa, Goliath menyandang predikat sebagai pemancar paling kuat pada masanya. Setelah perang berakhir, Goliath dibongkar oleh Uni Soviet dan dipindahkan ke Nizhny Novgorod. Antena bersejarah itu hingga hari ini masih digunakan oleh Angkatan Laut Rusia untuk berkomunikasi dengan kapal selamnya. Nah, bagaimana Kawan Bicara? Apakah kamu masih butuh banyak referensi agar terpuaskan rasa penasaran kamu? Setidaknya, kamu sudah mengetahui hal dasar bentuk komunikasi serra peralatan yang cocok untuk kamu jika berkesempatan berlayar mengarungi lautan. See you! Source // // //
Temuan nelayan maupun pantauan satelit Indonesia Ocean Justice Initiative IOJI memperlihatkan kapal asing seakan tidak takut melaut di laut Natuna Utara meskipun dilakukan penangkapan. Informasi terakhir, nelayan melihat alat radar nelayan Vietnam makin canggih. Mereka pakai radar yang bisa melihat jenis dan tujuan kapal di sekitar mereka. Indonesia Ocean Justice Initiative IOJI menyebutkan, selama September dan Oktober 2021, teridentifikasi ancaman keamanan laut di ZEE Indonesia dari faktor eksternal dengan variasi yang makin beragam. Pertama, ancaman illegal fishing oleh kapal ikan Vietnam dan Tiongkok di zona utara Laut Natuna Utara. Kemudian, kapal ikan Malaysia di Selat Malaka dan kapal ikan Sri Lanka di Samudera Hindia barat Sumatera. Kedua, ancaman keamanan dari kapal-kapal riset Tiongkok yang didampingi empat kapal Coast Guard Tiongkok dengan intensitas ancaman yang meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Hendri, Ketua Aliansi Nelayan Natuna mengatakan, awalnya selalu melaporkan temuan nelayan ini kepada PSDKP ataupun aparat berwenang lain. Setelah itu, mereka menindak. Beberapa waktu belakangan laporan itu tidak digubris lagi hingga Hendri tidak melaporkan lagi temuan-temuan nelayan di lapangan. Kapal ikan asing pencuri ikan di Laut Natuna Utara tidak ada habisnya. Dari penutupan nelayan maupun pantauan satelit Indonesia Ocean Justice Initiative IOJI memperlihatkan kapal asing seakan tidak takut melaut di perairan Indonesia meskipun dilakukan penangkapan. Hendri, Ketua Aliansi Nelayan Natuna ANN memperlihatkan video kapal asing pencuri ikan di laut perbatasan atau Laut Natuna Utara. Dalam video itu jelas titik koordinat dan tanggal temuan kapal asing pencuri ikan. “Baru-baru ini ada juga yang melapor, menemukan kapal asing di perairan lepas sekitar 90 mil dari tepi laut Ranai Natuna,” katanya kepada Mongabay, akhir Oktober lalu. Dia bilang, karakter melaut nelayan Vietnam masih sama menggunakan alat tangkap pukat harimau atau pair trawl gandeng dua kapal. Di beberapa kapal ada yang menggunakan purse seine. Nelayan Natuna juga katakan hal sama. Pada 19 Oktober 2021 ada empat pasang kapal asing Vietnam di laut Natuna. “Mereka nelayan selalu kalau bertemu kapal asing videokan kirim ke saya,” katanya. Tidak hanya itu, kapal asing juga ditemukan nelayan lokal melaut di Laut Anambas. “Memang sudah kekal mereka mencuri di laut terutama di Natuna ini,” kata Hendri. Beberapa nelayan sempat naik ke kapal Vietnam untuk meminta umpan dan makanan. “Karena ramainya di laut itu, nelayan kita naik ke kapal mereka, nelayan Vietnam kasih mereka beras, mie goreng, umpan dan ada juga kalau nelayan kehabisan solar mereka bantu,” katanya. Informasi terakhir, nelayan melihat alat radar nelayan Vietnam makin canggih. Mereka pakai radar yang bisa melihat jenis dan tujuan kapal di sekitar mereka. “Jadi, dari jarak 15 mil, kapal Vietnam itu sudah tau kapal yang berada di dekat mereka, kalau tau kapal patroli Indonesia mereka lari, tetapi kalau kapal nelayan mereka berkawan.” ANN, katanya, selalu melaporkan temuan nelayan ini kepada PSDKP ataupun aparat berwenang lain. Setelah itu, mereka menindak. “Komunikasi saya bagus dengan mereka semua.” Baca juga Kapal Asing Curi Ikan di Natuna Diamankan, Satu Terbakar, Ini Foto dan Videonya Kapal-kapal asing sitaan di Kota Batam, Kepulauan Riau. Foto Yogi ES/ Mongabay Indonesia Namun, katanya, beberapa waktu belakangan laporan itu tidak digubris lagi hingga Hendri tidak melaporkan lagi temuan-temuan nelayan di lapangan. “Saya tidak ada lagi lapor-lapor, sudah malas juga berkomunikasi, tidak mungkin setiap kita temukan lapor, nanti marah pula mereka aparat,” katanya. Dia berharap, walaupun nelayan tidak melaporkan kejadian itu ke pemerintah, seharusnya aparat tetap ada di Laut Natuna Utara. Dia sebutkan, salah satu solusi mengatasi persoalan ini adalah pemerintah harus memberdayakan nelayan lokal untuk melaut di Laut Natuna Utara atau di laut ZEE itu. Selama ini, katanya, nelayan yang berani melaut ke perbatasan hanyalah nelayan Natuna dan Anambas. Walaupun pemerintah memobilisasi nelayan dari Jawa itu, kata Hendri. tidak akan bisa mengisi laut Natuna Utara. “Hanya nelayan Natuna dan Anambas yang sampai kesana Laut Natuna Utara,” kata Hendri. Bukti masih ada kapal asing di Laut Natuna Utara juga disampaikan IOJI. Dalam analisis IOJI tidak hanya kapal asing melaut di Natuna Utara, juga kapal riset Tiongkok yang heboh beberapa waktu lalu. Dalam analisis IOJI berdasarkan citra satelit kapal asing pencuri ikan di Natuna terdeteksi selama September 2021. Kapal itu berbendera Vietnam. Di bulan sama, kapal Vietnam juga terdeteksi di ZEE Indonesia yang merupakan wilayah sengketa dengan Vietnam. Imam Prakoso, peneliti IOJI merincikan, pada 19 September 2021 terdeteksi 35 kapal ikan Vietnam berada di ZEE Indonesia yang tumpang tindih dengan klaim ZEE Vietnam. Kemudian, terdeteksi 13 kapal ikan Vietnam pada 16 September 2021. “Itu berada di bawah garis landas kontinen.” Selama September dan Oktober 2021, aktivitas penangkapan ikan ilegal oleh kapal ikan asing tidak hanya terjadi di Laut Natuna Utara juga di Selat Malaka dan Samudera Hindia Bagian Barat Sumatera. “Pelaku illegal fishing kapal berbendera Vietnam, Malaysia dan Sri Lanka,” kata Imam. Baca juga Kala Kapal Asing Curi Ikan Kian Menggila di Perairan Natuna Utara Proses penenggelaman kapal asing di perairan Kota Batam, Desember 2020 . Foto Yogi ES/ Mongabay Indonesia Dari analisis IOJI, terlihat juga kapal-kapal patroli TNI dan Bakamla RI terpantau secara bergantian aktif mengawal aktivitas pengeboran minyak drilling rig Clyde Boudreaux di Blok migas Tuna, di ZEE Indonesia, Laut Natuna Utara. Namun, selama September 2021, tidak ada satupun kapal asing Vietnam melaut di Laut Natuna Utara ditangkap, baik oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP, Badan Keamanan Laut, Kepolisian Republik Indonesia Polri, maupun TNI-AL. “KKP hanya berhasil menangkap dua kapal ikan berbendera Malaysia yang intrusi di Selat Malaka pada 10 dan 26 September 2021.” IOJI juga menyebutkan, selama September dan Oktober 2021, teridentifikasi ancaman keamanan laut di ZEE Indonesia dari faktor eksternal dengan variasi yang makin beragam. Pertama, ancaman illegal fishing oleh kapal ikan Vietnam dan Tiongkok di zona utara Laut Natuna Utara. Kemudian, kapal ikan Malaysia di Selat Malaka dan kapal ikan Sri Lanka di Samudera Hindia barat Sumatera. Kedua, ancaman keamanan dari kapal-kapal riset Tiongkok yang didampingi empat kapal Coast Guard Tiongkok dengan intensitas ancaman yang meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Wahyu Muryadi, juru bicara Kementerian Kelautan dan Perikanan, mengatakan, akan terus menindak lanjuti laporan nelayan maupun dari IOJI terkait temuan kapal asing di Laut Natuna Utara. “Kita akan tindak, sampai saat ini KKP sudah menangkap 140 kapal ikan yang melanggar di perairan Indonesia selama 2021,” katanya. Sebelumnya, beberapa kapal ikan asing ditemukan nelayan sudah ada tindakan. “Sudah beres itu,” katanya singkat melalui pesan WhatsApp kepada Mongabay, 29 Oktober lalu. Abdul Halim, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan mengatakan, persoalan pencurian ikan di laut Indonesia terutama laut Natuna utara bukanlah barang baru. Hal ini sudah terjadi sejak lama karena Indonesia memiliki ikan sangat berlimpah. Ada beberapa hal yang harus dilakukan Indonesia menghadapi masalah yang berkepanjangan ini. Pemerintah, katanya, harus mengerahkan kekuatan untuk menjaga sumber perikanan Indonesia. “Kalau dalam istilah sepak bola, Indonesia harus melakukan strategi total football,” katanya. Abdul bilang, problem bertambah ketika masa COVID-19 banyak anggaran pindah untuk kepentingan menghadapi pandemi. “Seperti hasil temuan kami, ada beberapa pos anggaran pengawasan kapal asing dipindahkan menjadi anggaran bantuan sosial untuk masyarakat terdampak COVID,” katanya. Dampak pemindahan anggaran ini, waktu kapal patroli di laut Indonesia makin berkurang. “Hal ini juga kami temukan di WPP 711 atau Laut Natuna Utara,” katanya. IOJI memberikan beberapa rekomendasi buat Pemerintah Indonesia dalam menghadapi pencurian ikan dan ancaman laut Indonesia. Pertama, pemerintah perlu meningkatkan koordinasi dan sinergi dalam perencanaan dan pelaksanaan patroli yang efektif, khusus kapal-kapal ikan Vietnam dan pelaku illegal fishing lain di zona utara, Laut Natuna Utara. Kedua, Pemerintah Indonesia perlu menelusuri aktivitas Kapal Survei Hai Yang Di Zhi 10 dan Kapal Survei Yuan Wang 6 di ZEE Indonesia. Beberapa langkah ditawarkan IOJI seperti, kapal patroli milik TNI-AL maupun Bakamla meminta klarifikasi langsung dari Kapal Riset Hai Yang Di Zhi 10 melalui jalur radio mengenai aktivitas yang mereka lakukan secara intensif selama berada di ZEE Indonesia. IOJI juga meminta pemerintah tanah air mengirimkan nota diplomatik kepada Pemerintah Tiongkok untuk meminta klarifikasi terkait aktivitas Kapal Survei Hai Yang Di Zhi 10 dan Kapal Survei Yuan Wang 6 di ZEE Indonesia. Kemudian, pemerintah juga harus meminta akses terhadap hasil riset ilmiah kelautan yang diduga kuat oleh Kapal Hai Yang Di Zhi 10 di ZEE dan Landas Kontinen Indonesia. ***** Foto utama ABK dari kapal Vietnam yang diamankan petugas menunjukkan pukat harimau, sebagai alat tangkap mereka. Foto Yogi E Sahputra/ Mongabay Indonesia Artikel yang diterbitkan oleh
Natuna - Badan Keamanan Laut Bakamla RI membayangi satu unit kapal asing di Selat Sunda. Kapal itu berbendera China."Bakamla RI berhasil membayangi kapal survei China di Selat Sunda pada rabu malam 13/1," ujar Kabag Humas dan Protokol Bakamla RI Kolonel Bakamla Wisnu Pramandita melalui keterangannya, Kamis 14/1/2021.Kapal itu bernama Xiang Yang Hong 03. Kapal Xiang Yang Hong 03 sedang berlayar di Selat Sunda dengan kecepatan 10,9 knots dengan haluan ke arah barat daya. "Kapal tersebut telah mematikan AIS Automatic Identification System sebanyak tiga kali selama melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia," kata merupakan sistem tracking kapal otomatis yang berisi informasi mengenai keadaan kapal baik posisi, waktu, haluan, dan kecepatan. kapal Xiang Yang Hong 03 mematikan AIS saat berada di Laut Natuna Utara, Laut Natuna Selatan, dan Selat menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 7 Tahun 2019 tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis, setiap kapal Indonesia ataupun kapal asing yang melintasi perairan Indonesia wajib mengaktifkan kabar tersebut, Direktur Operasi Laut Bakamla Laksamana Pertama Bakamla Suwito memerintahkan Letkol Bakamla Anto Hartanto untuk menuju Selat Sunda. KN Pulau Nipah 321 mengejar Kapal Xiang Yang Hong 03 di Selat Sunda."Sekitar pukul WIB Kapal Xiang Yang Hong 03 terdeteksi pada jarak 10 Nm dari kapal Bakamla. KN Pulau Nipah 321 membuka komunikasi melalui radio marine band di channel 16 dan mendapat respons dari kapal survei China tersebut," sebut hasil komunikasi, Kapal Xiang Yang Hong 03 bertolak dari China menuju Samudra Hindia. "Dari keterangan yang diberikan, penyebab tidak terdeteksinya AIS dalam tiga periode waktu disebabkan karena adanya kerusakan pada sistem tersebut," lanjut Pulau Nipah 321 tak bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena cuaca buruk. Akhrinya, KN Pulau Nipah 321 mengawal Kapal Xiang Yang Hong 03 keluar dari zona perairan Indonesia."KN Pulau Nipah 321 terus membayangi kapal survei China hingga keluar dari ZEEI Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia," tutupnya. isa/fjp
komunikasi dengan kapal asing